“Di Halmahera Selatan, di sudut ruang redaksi dan lorong sunyi lembaga informasi, ada yang lebih menakutkan daripada suara penguasa—yaitu ketakutan terhadap bayang-bayang sendiri. Ini bukan soal fisik, bukan pula ancaman terang-terangan. Tapi ketakutan abstrak: kehilangan dana hibah, diintimidasi secara sosial, atau sekadar takut menjadi “bermasalah” karena bersuara lantang.
Pers Halsel tengah berada dalam dilema sunyi. Kebijakan-kebijakan yang dirasa tidak berpihak pada keadilan sosial atau kesejahteraan rakyat dibiarkan berlalu tanpa koreksi. Ketika ruang kompromi dan kolaborasi dibuka oleh aktor-aktor perubahan, tanggapan yang muncul justru dingin dan tak peduli.
Padahal di luar sana, rakyat terus dihantam gelombang masalah:
- Ada perampasan lahan yang membuat warga kecil kehilangan sumber penghidupan,
- Ada kasus kekerasan seksual yang menyisakan trauma, namun tak kunjung menemukan kejelasan hukum,
- Ada pula kebijakan politik yang justru menekan ekosistem pers sendiri, menjadikan mereka hanya sebagai corong tanpa daya.
Lalu, di mana posisi pers? Mengapa suara mereka melemah?
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagian memilih diam. Sebagian lainnya menahan jari-jemari untuk menulis. Bahkan ada yang merasa aman dengan memilih bungkam. Seolah nurani telah membeku, dan semangat telah padam sebelum menyala.
Apa yang membuat generasi ini lahir dengan jiwa yang tak sekuat para pendahulunya?
Apakah sumpah pemuda kini hanya tinggal naskah upacara yang dilafalkan tanpa makna?
Pemuda Halsel, khususnya yang tergabung dalam profesi pers, tampaknya mulai kehilangan identitas perlawanan. Mereka yang dulu digadang-gadang sebagai ujung tombak revolusi, kini terlihat tak berkutik saat kebijakan tak berpihak. Bahkan ketika mereka sendiri yang terdampak, suara pun tak kunjung keluar.
Kita menyaksikan masalah datang silih berganti. Tapi kita juga menyaksikan bagaimana jati diri insan pers semakin kabur, dan nurani mereka tetap saja bungkam. Seakan tidak ingin berurusan, seakan tidak tahu-menahu, seakan tak lagi menjadi bagian dari perjuangan.
Padahal inilah momen sejarah yang sedang ditulis. Dan ironisnya, sebagian dari kita memilih jadi penonton yang menulis sunyi, bukan perlawanan.
✒️Penulis : Uches
📝 Catatan Redaksi & Penulis:
Opini ini merupakan refleksi terbuka terhadap kondisi sosial dan profesi pers di daerah. Tidak dimaksudkan untuk menyerang individu atau lembaga manapun. Semua pernyataan bersifat umum dan tidak menunjuk pihak tertentu. Disusun sesuai semangat UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik.







