Van Saruma: Ruang Pulang bagi Aktivis dan Sarjana Muda Halmahera Selatan

Jumat, 4 Juli 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Van Saruma

(Menjaga Warisan, Membangun Peradaban) 

Di tengah dinamika sosial-politik Halmahera Selatan yang semakin kompleks, sekelompok Sarjana Muda asal Botang Lomang, yang juga merupakan alumni perguruan tinggi di Ternate dan daerah lainnya, menginisiasi sebuah pertemuan terbuka. Mereka tidak datang sebagai elit atau tokoh mapan. Mereka datang sebagai anak-anak kampung yang pernah menimba ilmu, berproses dalam organisasi, dan kini kembali ke tanah kelahiran dengan kegelisahan yang sama: ke mana arah gerakan intelektual di daerah ini?

Keretakan yang Tak Terucap

Pertemuan ini berangkat dari satu kesadaran pahit: buyarnya komunikasi antar aktivis, lemahnya ruang konsolidasi, dan tidaknya terbukanya jalur integrasi bagi alumni kampus luar daerah untuk kembali berkontribusi di Halsel.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sering kali, sarjana yang pulang dari Ternate atau luar Maluku Utara, hanya menjadi “penonton” dari dinamika lokal. Mereka memiliki ilmu dan pengalaman, tetapi tak punya panggung. Mereka memiliki semangat, tapi kehilangan ruang berbicara.

Salah satu penyebabnya adalah realitas sosial yang didominasi oleh kelompok-kelompok yang telah lama “bergerilya” dan memiliki kuasa atas percakapan sosial di daerah. Para alumni baru seolah tidak punya posisi tawar. Diskusi pun menjadi eksklusif, hanya berkutat pada figur tertentu, dan tidak lagi berorientasi pada perubahan bersama.

Dari Kegelisahan ke Gagasan: Lahirnya Van Saruma

Dari sinilah lahir gagasan tentang “Van Saruma”, sebuah organisasi berbasis nilai kebudayaan, literasi, dan kepemudaan.

Van Saruma tidak sekadar nama. Ia adalah roh gerakan yang memanggil siapa pun yang pernah belajar, berpikir, dan berjuang—untuk kembali berkumpul dan menyatukan pemuda Halsel dalam satu kesadaran bersama.

Dalam bahasa ideologis, “Van” berarti arah atau jalan, sedangkan “Saruma” adalah identitas historis Maluku bagian selatan—simbol keberanian, keterbukaan, dan integritas. Maka, Van Saruma dapat dimaknai sebagai jalan pulang yang disiapkan bagi mereka yang pernah pergi menuntut ilmu, dan kini siap kembali membangun.

Van Saruma sebagai Ruang Kultural dan Sosial

Lebih dari sekadar wadah alumni, Van Saruma adalah panggung kebudayaan dan ruang literasi kolektif.

Di dalamnya, para mantan aktivis, pelajar, mahasiswa, hingga pegiat komunitas, bertemu tanpa embel-embel senioritas atau fraksi politik.

Semua setara. Semua bicara. Semua membangun.

Van Saruma hadir untuk membangun komunikasi yang cair antar alumni Ternate dan komunitas pemuda lokal. Di ruang ini, para sarjana muda belajar mengenali medan sosial Halsel yang unik, serta mengasah kembali kemampuan berpikir, berbicara, menulis, dan bergerak.

Organisasi ini juga menjadi jembatan antara gagasan dan aksi—tempat di mana wacana bukan hanya untuk debat, tapi untuk membentuk program nyata.

Membuka Jalan, Membangun Peradaban

Hari ini, ketika literasi makin minim, budaya makin terpinggir, dan pemuda makin apatis, Van Saruma berdiri sebagai suara baru.

Bukan untuk mengklaim kekuasaan, tapi untuk membangun peradaban dari bawah. Bukan untuk membentuk sekte aktivis, tapi untuk menyatukan kembali yang tercerai karena ego sektoral.

Van Saruma bukan milik siapa-siapa. Ia adalah milik kita, karna Tanah ini bukan sekadar warisan – ia adalah titipan untuk dijaga.

Kami bukan pewaris yang diam – kami penjaga yang bergerak.

“Bersama, kita bangun masa depan dari akar-akar yang kuat : Tanah yang Subur, Serta Adat & Cinta.”

🖋Inisiator – Uches

Berita Terkait

Menjaga Kemitraan Sinergitas Hubungan Antara Kepala Daerah dan DPRD
Donald Trump Menarik Simpul Perang Dunia-II: Dari Venezuela ke Taiwan 
Menghubungkan Ruang Kelas dan Realitas Lapangan
Prinsip Pertanggungjawaban KUHP Nasional, dan Dosa Korporasi
Ruang Belajar yang Tak Lagi Aman: Mengungkap Luka di Balik Kasus Kekerasan Seksual
Imperialisme Pasar Bebas: Langkah Awal Devide and Rule di Indonesia
Jasa Tak Terlupakan, Alfateha Untukmu Kawan
Kisah Anak Petani Yang Memilukan

Berita Terkait

Rabu, 14 Januari 2026 - 23:24

Menjaga Kemitraan Sinergitas Hubungan Antara Kepala Daerah dan DPRD

Rabu, 7 Januari 2026 - 23:03

Donald Trump Menarik Simpul Perang Dunia-II: Dari Venezuela ke Taiwan 

Rabu, 7 Januari 2026 - 17:16

Menghubungkan Ruang Kelas dan Realitas Lapangan

Kamis, 4 Desember 2025 - 21:25

Prinsip Pertanggungjawaban KUHP Nasional, dan Dosa Korporasi

Jumat, 28 November 2025 - 00:00

Ruang Belajar yang Tak Lagi Aman: Mengungkap Luka di Balik Kasus Kekerasan Seksual

Berita Terbaru