Donald Trump Menarik Simpul Perang Dunia-II: Dari Venezuela ke Taiwan 

Rabu, 7 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Qenan Rohullah

(Aktivis Halmahera: Analis Militer, Geopolitik Eropa dan Asia-Pasifik)

Malut.Kuytanda.Com | Opini Internasional–Setelah kematian liga bangsa-bangsa, Amerika Serikat menjebak Inggris dan Eropa seutuhnya ke dalam pusaranya. Doktrin pasca perang dunia-II adalah menghargai setiap bangsa atas kedaulatan wilayahnya, terutama Asia, Afrika hingga Amerika Latin.

Rumusan dari doktrin pasca perang justru memunculkan aturan internasional untuk dijadikan alas hukum setelah berdirinya PBB, setelah kematian liga bangsa-bangsa pada 1930-an.

Inilah dunia bipolar, yang memproyeksikan pengaruhnya ke semua wilayah lain di planet ini. Setiap negara—termasuk koloni-koloni yang baru merdeka di Global South—dihadapkan pada pilihan: model ideologis mana (dari dua) yang akan diadopsi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jika mereka memilih kapitalisme, mereka menyerahkan kedaulatan kepada Washington dan NATO. Jika sosialisme, maka kepada Moskow. Gerakan Non-Blok berupaya membangun kutub ketiga, tetapi mereka kekurangan sumber daya ideologis dan kekuatan untuk melakukannya.

Terlihat jelas gerakan Asia-Afrika 1955, mampu diakomodir masuk dalam orbit negara-negara sekutu perang dunia-II, akhirnya melemahkam gerakan tandingan mengalahkan Amerika dan Eropa dengan total intevensi kedalam politik suatu wilayah kedaulatan.

Era pasca perang membentuk sistem hukum internasional yang didasarkan pada korelasi kekuatan nyata antara dua kubu ideologis. Secara formal, kedaulatan nasional diakui; namun dalam praktiknya, tidak. Prinsip Westphalia dipertahankan secara nominal.

Pada kenyataannya, semuanya diputuskan melalui keseimbangan kekuatan antara Uni Soviet dan Amerika Serikat serta negara-negara satelitnya.

Pada tahun 1989, selama keruntuhan Uni Soviet—yang disebabkan oleh reformasi destruktif Gorbachev—blok Timur mulai runtuh, dan pada tahun 1991, Uni Soviet hancur. Negara-negara bekas sosialis mengadopsi ideologi musuh Perang Dingin mereka. Dunia unipolar pun dimulai.

Ini berarti bahwa hukum internasional berubah secara kualitatif. Hanya satu otoritas berdaulat yang tersisa, yang menjadi global—AS atau negara-negara Barat secara kolektif.

Satu ideologi, satu kekuatan. Kapitalisme, liberalisme, NATO. Prinsip kedaulatan negara-bangsa dan PBB itu sendiri menjadi peninggalan masa lalu, seperti halnya Liga Bangsa-Bangsa di masa lalu, ( Alexander Dugin: The end of international law and the return of world war).

Dikotomi Eropa dan Menciptakan Amerika Kembali

Seperti pertemuan tiga pemimpin besar, Amerika Seikat, Inggris dan Uni Soviet dengan pengakuan mengakhiri perang, meskipun terlihat ada pola mengendalikan ekonomi dan perbankan oleh Amerika Serikat, membagi porsi keuntungan pasca perang, yakni mengangkat dollar kepermukaan sebagai instrumen sistem perbankan internasional.

Terlihat jelas Jerman, Prancis dan Inggris tidak bisa bersih keras menolak kebijakan Amerika Serikat, bahkan dengan skema yang rasional sekalipun tetap masih menyimpan kemunafikan dari pemimpin Amerika Serikat.

Dalam kasus Venezuela, di mana Trump secara berbahaya menuntut agar Rusia menarik sekitar seratus penasihat yang dikirim untuk membantu menstabilkan negara tersebut, anggapan bahwa Amerika Serikat memiliki hak ekstrateritorial eksklusif sebagian besar didasarkan pada “doktrin” yang dideklarasikan secara sepihak pada abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Doktrin Monroe tahun 1823 dan Korolarium Roosevelt tahun 1904 secara de facto menetapkan Amerika Serikat sebagai hegemon-presumtif untuk seluruh Belahan Bumi Barat, yang membentang dari Lingkaran Arktik di utara hingga Patagonia di selatan.

Eropa Masih Terjebak Dalam Doctrin Monroe

John Bolton telah menjadi tokoh utama dalam mempromosikan Doktrin Monroe sebagai pembenaran atas campur tangan Washington dalam politik Venezuela, tampaknya hanya samar-samar menyadari bahwa Doktrin tersebut, yang menentang setiap upaya kekuatan Eropa untuk mendirikan koloni baru di Belahan Bumi Barat, hanya berlaku selama dua puluh dua tahun ketika Amerika Serikat sendiri mencaplok Texas dan kemudian berperang dengan Meksiko pada tahun berikutnya.

Perang Meksiko menyebabkan pencaplokan wilayah yang kemudian menjadi negara bagian California, New Mexico, Nevada, Utah, Arizona, dan Colorado.

Pada tahun yang sama, Amerika Serikat mengancam perang dengan Inggris atas Wilayah Oregon, dan akhirnya menerima penyelesaian perbatasan yang membentang di sepanjang paralel ke-49.

Sementara itu, pergerakan ke arah barat melintasi dataran terus berlanjut, memaksa suku-suku Indian kembali ke lahan terbuka yang semakin sempit.

Pemerintah AS pada abad ke-19 mengakui beberapa suku Indian sebagai “bangsa,” tetapi tampaknya tidak percaya bahwa mereka menikmati hak-hak “Doktrin Monroe” yang eksplisit untuk terus eksis di luar reservasi ketika dihadapkan oleh para pendukung “manifest destiny” yang bertekad menciptakan Amerika Serikat yang membentang dari Samudra Atlantik hingga Samudra Pasifik. (Philip M. Giraldi: Direktur Eksekutif Council for the National Interest).

Venezuela Menuju Taiwan: Skema Perang Dunia-II Dihidupkan

Pergeseran lensa geopolotik di tahun 2023, ketika Rusia-Ukraina bertemu dijalur konflik, para miliader vaksin era pendemi covid-19 merasa tidak puas, sebab Eropa Timur dibawah arus pengaruh Putin dan Rusianya terus mengkonsolidasikan negara-negara eks Pacta Parsawa dan Blok Soviet.

Donald Trump, sekiranya memutuskan rantai ekspor Gas North Stream-2 dari Rusia ke Jerman melalui Ukraina, alibi cerdik Donal Trump adalah Eropa harus menjadi pion dari Amerika Serikat.

Singkirkan konflik Ukraina ke Palestina dan Lebanon dalam pusaran negara-negara teluk, sekedar mengalihkan Eropa ke Timur Tengah dan fokus Trump ke Pasifik, sebagaimna Barack Obama mengenai Pivot to Asia pada 2011.

Geoekonomi dan sepak terjangnya di Pasifik memilih Venezuela sebagai pusat konsolidasi ekonomi kawasan terdepan dan pusat konsolidasi militer adalah Jepang, Taiwan dan Australia serta New Zeland.

Maka kesinabmnunganya adalah Trump memutuskan Eropa dan Menekan Tiongkok di Asia melalui gerakan penyergapan kepada pemimpin Venezuela alias Maduro.

MAGA ( Make America Great Again ) adalah mimpi Trump setelah Xi-Jinling sudah lebih dulu mengalirkan jalan sutra maritim hingga ke Afrika dan menggaungi BRICS bersama Rusia, mimpi itu sekedar mengulas terjemahan tafsir Piagam Atlantik 1941, dimana Our Job In Pasific ( pekerjaan kami di Pasifik) karya Henry Agrace Wallace untuk masa depan Amerika Serikat.

Dan fase perang dunia-II 1939 ke 1945 adalah titik kunci simpul untuk mengendalikan dunia. Bukan persoalan intervensi militer dan politik terhadap Venezuela saja, justru lebih kepada membentuk kembali aturan unipolar ( satu kutub ) sebagaimana di era perang dunia-II.

Dengan skema menguasai Venezuela, kemudian meneruskan proyek proxy area di wilayah Taiwan sebagai area kontrol LCS ( Laut China Selatan), sewaktu-waktu pecah perang kawasan di Pasifik, maka letak geografis masa lalu akan kembali di aktifkan.

Setelah Venezuela maka Trump akan berlabuh di Taiwan, sebagaimana para pendahulunya. Tujuan kita adalah kembali belajar bagaimana dan seperti apa dunia pasca perang dunia-II.

Dan apakah 2026 perang sudah di mulai? Kembali pikirkan langkah apa yang kita siapkan di Pasifik, dan mualilah dari sekarang.!!

Berita Terkait

Presiden Prabowo Hadiri Dan Menandatangi BOP Di Swiss
Bupati Bassam Kasuba Lantik Penjabat Sekda : Tekankan Peran Strategis Birokrasi
Pelantikan Pengurus KB PII Halsel Periode 2025- 2029, Ini Pesan Bupati Bassam Kasuba 
Amerika Serikat secara resmi keluar dari 66 Organisasi Dunia
Ketua IKKT PWA CBS IV Kogabwilhan III Laksanakan Kunjungan dan Berbagi Kasih di Halmahera Barat
Sentuhan Kasih IKKT PWA CBS IV Kogabwilhan III Hangatkan Hati Anak Disabilitas dan Lansia di Ternate
Menjaga Kemitraan Sinergitas Hubungan Antara Kepala Daerah dan DPRD
Dana Angkutan Apung Bermotor dan jasa Tenaga Keamanan Rp 7,5 M, Begini Penjelasan Sekda Halsel.!

Berita Terkait

Minggu, 25 Januari 2026 - 12:57

Presiden Prabowo Hadiri Dan Menandatangi BOP Di Swiss

Sabtu, 24 Januari 2026 - 13:26

Bupati Bassam Kasuba Lantik Penjabat Sekda : Tekankan Peran Strategis Birokrasi

Sabtu, 24 Januari 2026 - 07:58

Pelantikan Pengurus KB PII Halsel Periode 2025- 2029, Ini Pesan Bupati Bassam Kasuba 

Sabtu, 17 Januari 2026 - 17:15

Amerika Serikat secara resmi keluar dari 66 Organisasi Dunia

Sabtu, 17 Januari 2026 - 09:04

Ketua IKKT PWA CBS IV Kogabwilhan III Laksanakan Kunjungan dan Berbagi Kasih di Halmahera Barat

Berita Terbaru