Resiliensi Guru: Pilar Penting di Tengah Gempuran Perubahan Kurikulum

Rabu, 23 Juli 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Nursani M. Tahir, M.M


Malut.Kuytanda.Com-Nasional, Indonesia telah mengalami beragam transformasi kurikulum, dari Kurikulum 1975 hingga kini Kurikulum Merdeka. Setiap perubahan kurikulum membawa semangat baru, namun juga tantangan bagi guru.

Di tengah semua itu, ada satu tokoh sentral yang selalu berada di garis depan implementasi guru. Sayangnya, dalam gegap gempita reformasi kurikulum, guru sering hanya dianggap sebagai pelaksana teknis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mereka dibebani berbagai tuntutan, dari administratif hingga pedagogis, tanpa selalu diberi ruang adaptasi yang memadai.

Di sinilah pentingnya resiliensi guru kemampuan mereka untuk bertahan, bangkit, dan terus menjalankan tugas mendidik meski situasi berubah cepat.

Banyak guru yang harus beradaptasi sendiri. Juga, menghadapi pelatihan yang singkat, infrastruktur yang belum merata, serta harapan tinggi dari berbagai pihak.

Namun, justru dalam kondisi itulah muncul kekuatan yang luar biasa. Guru-guru di pelosok negeri tetap berusaha mencari sumber belajar, mengikuti pelatihan daring mandiri, dan menyusun modul yang kontekstual demi siswanya.

Inilah potret resiliensi yang sesungguhnya: ketangguhan mental, semangat belajar, dan kepedulian tulus terhadap masa depan anak-anak bangsa.

Namun, kita tak bisa berharap guru terus “berjuang sendirian”.

Resiliensi bukan sekadar bakat alami; ia harus dibentuk, dirawat, dan didukung. Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap kebijakan kurikulum disertai dengan pelatihan yang bermakna, bukan sekadar formalitas.

Sekolah perlu menjadi ruang aman bagi guru untuk bereksperimen dan berbagi tanpa takut disalahkan.

Komunitas belajar guru harus terus difasilitasi, bukan hanya menjadi program tempelan.

Di balik setiap kebijakan besar, ada guru-guru yang berjibaku mewujudkannya dalam ruang kelas nyata. Menyusun RPP, menyesuaikan asesmen, menghadapi siswa dengan latar belakang beragam.

Maka, jika kita serius ingin kurikulum nasional berjalan efektif, kita harus memprioritaskan ketahanan dan kesejahteraan guru, bukan hanya target dan angka-angka.

Membicarakan pendidikan tanpa menyentuh keseharian guru adalah ilusi. Dan berharap perubahan besar tanpa memberdayakan mereka adalah kesia-siaan. (*)

 

 

Berita Terkait

Berdasar Evaluasi Progres: dr. Nurrasty Liambana di Mutasi: Begini Penjelasan Kapus Maffa Secara Rasional.!
Hadiri Rakornas Presiden Prabowo : seluruh pemimpin wajib mengabdi sepenuhnya kepada kepentingan bangsa dan negara
BNN Berhasil Amankan 2 WNA dalam kasus Narkoba modus vape (rokok elektrik) 
Polri Resmi Buka Pendaftaran SIPSS 2026 bagi Lulusan S2 hingga Diploma
Ibu Ketua IKKT PWA CBS IV Kogabwilhan III Berbagi Kepedulian untuk Masyarakat Pesisir Pulau Maitara
Densus Goes To School, Cegah Paham Radikalisme pada Anak
Menjaga Kemitraan Sinergitas Hubungan Antara Kepala Daerah dan DPRD
HMI Mendesak Pemkot Ternate Membuka Akses Publik Dokumen RPJMD 2025-2029

Berita Terkait

Rabu, 4 Februari 2026 - 20:46

Berdasar Evaluasi Progres: dr. Nurrasty Liambana di Mutasi: Begini Penjelasan Kapus Maffa Secara Rasional.!

Senin, 2 Februari 2026 - 18:53

Hadiri Rakornas Presiden Prabowo : seluruh pemimpin wajib mengabdi sepenuhnya kepada kepentingan bangsa dan negara

Selasa, 20 Januari 2026 - 13:55

BNN Berhasil Amankan 2 WNA dalam kasus Narkoba modus vape (rokok elektrik) 

Senin, 19 Januari 2026 - 12:51

Polri Resmi Buka Pendaftaran SIPSS 2026 bagi Lulusan S2 hingga Diploma

Sabtu, 17 Januari 2026 - 17:20

Ibu Ketua IKKT PWA CBS IV Kogabwilhan III Berbagi Kepedulian untuk Masyarakat Pesisir Pulau Maitara

Berita Terbaru