๐—”๐—ฑ๐—ถ๐—ธ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐——๐˜‚๐—น๐˜‚ ๐— ๐—ฎ๐—ป๐—ท๐—ฎ, ๐—ž๐—ถ๐—ป๐—ถ ๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ด๐—ฎ ๐—ฆ๐—ฒ๐—ฏ๐˜‚๐—ฎ๐—ต ๐—ง๐—ถ๐˜๐—ถ๐—ฝ๐—ฎ๐—ป

Jumat, 26 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

“๐‘ฐ๐’๐’Ž๐’– ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’•๐’Š๐’…๐’‚๐’Œ ๐’Ž๐’†๐’๐’‚๐’‰๐’Š๐’“๐’Œ๐’‚๐’ ๐’•๐’‚๐’๐’ˆ๐’ˆ๐’–๐’๐’ˆ ๐’‹๐’‚๐’˜๐’‚๐’ƒ ๐’‰๐’‚๐’๐’š๐’‚๐’๐’‚๐’‰ ๐’‘๐’†๐’๐’ˆ๐’†๐’•๐’‚๐’‰๐’–๐’‚๐’; ๐’”๐’†๐’Ž๐’†๐’๐’•๐’‚๐’“๐’‚ ๐’Š๐’๐’Ž๐’– ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’…๐’Š๐’“๐’‚๐’˜๐’‚๐’• ๐’…๐’†๐’๐’ˆ๐’‚๐’ ๐’‚๐’Ž๐’‚๐’๐’‚๐’‰ ๐’‚๐’Œ๐’‚๐’ ๐’ƒ๐’†๐’“๐’–๐’ƒ๐’‚๐’‰ ๐’Ž๐’†๐’๐’‹๐’‚๐’…๐’Š ๐’Œ๐’†๐’‰๐’Š๐’…๐’–๐’‘๐’‚๐’.” ๐‘จ๐’ƒ๐’Š ๐‘บ๐’‚๐’Ž๐’…๐’Š

 

Malut kuytanda.com l Halsel –Pulau Bunyu selalu menyimpan gema kenangan yang tidak pernah benar-benar pergi. Ia tidak hanya hadir sebagai nama geografis, melainkan sebagai ruang batin tempat ingatan berteduh. Di sanalah masa sekolah membentuk lapisan-lapisan awal kesadaran hidup, ketika hari-hari dilalui dengan kesederhanaan dan pengabdian Abah kami menjadi poros segalanya. Bunyu, yang kala itu masih berada dalam administrasi Kalimantan Timur, menjadi saksi bisu perjalanan keluarga kami menunaikan tugas, belajar ikhlas, dan memahami arti merantau sebagai bagian dari takdir.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tahun-tahun itu bukan sekadar fase pendidikan formal, melainkan masa penempaan karakter. Hidup di tanah orang mengajarkan kami bahwa rumah sejati tidak selalu berwujud bangunan, melainkan nilai yang ditanamkan orang tua. Abah mengajarkan kami untuk tidak mengeluh pada jarak, tidak bernegosiasi dengan prinsip, dan tidak menukar keyakinan dengan kenyamanan. Dari sanalah kami belajar bahwa berpindah tempat bukan berarti kehilangan arah, selama iman tetap menjadi kompas perjalanan.

Saat itu, saya duduk di bangku Aliyah, sementara adik saya masih Tsanawiyah. Usianya lebih muda, wataknya lembut, dan sikapnya sering kali membuat saya tersenyum sebagai kakak. Ia dikenal sangat manja, bahkan oleh keluarga sendiri. Namun di balik sifat itu, tersimpan kejujuran yang utuh dan kepatuhan yang jarang ditemui. Ia tidak pernah melanggar batas, tidak terseret arus pergaulan yang merusak, dan selalu menjaga diri dalam kesederhanaan yang tulus.

Sebagai kakaknya, saya menyaksikan langsung bagaimana ia tumbuh dalam disiplin yang tidak dipaksakan, tetapi ditanamkan perlahan. Ia tidak pernah mengenal rokok sebagai pelarian, apalagi minuman keras sebagai simbol keberanian semu. Dunia remaja yang bagi banyak orang menjadi medan ujian, baginya justru ruang pembelajaran tentang menjaga diri. Keteguhan itu bukan hasil ketakutan, melainkan buah dari pendidikan moral yang konsisten dan teladan yang hidup di rumah kami.

Waktu kemudian memisahkan langkah kami. Saya melanjutkan pendidikan ke Palu, membawa mimpi dan kegelisahan khas anak muda yang ingin mencari makna hidup. Sementara itu, adik saya memilih jalur berbeda, menyeberang ke Pulau Jawa untuk melanjutkan studinya. Jarak geografis terbentang, tetapi ikatan nilai tetap utuh. Kami berjalan di jalan masing-masing, namun tetap berpijak pada satu keyakinan yang sama: agama sebagai penopang, dan Alkhairaat sebagai rumah spiritual.

Abah tidak pernah lelah menanamkan prinsip bahwa ilmu tanpa adab adalah kehampaan. Karena itu, di mana pun kami belajar, identitas keislaman dan semangat Alkhairaat tidak boleh ditanggalkan. Ia bukan sekadar organisasi atau institusi pendidikan, melainkan payung nilai yang melindungi kami dari lupa diri. Di bawah panji itulah kami belajar menundukkan ego, menghormati guru, dan memahami bahwa keberhasilan sejati adalah ketika ilmu membawa manfaat bagi sesama.

Tahun demi tahun berlalu, dan kehidupan membawa kami pada persimpangan takdir yang berbeda. Saya memilih jalan sebagai Kuli Tinta, menekuni dunia kata, merawat ingatan, dan menyusun realitas melalui tulisan. Sementara adik saya menapaki jalur pengabdian sebagai Aparatur Sipil Negara. Dua profesi yang berbeda, tetapi sesungguhnya berakar pada tujuan yang sama: melayani, menjaga kejujuran, dan menunaikan amanah dengan penuh tanggung jawab.

Namun, kebanggaan saya terhadap adik tidak berhenti pada status atau jabatan formal. Yang membuat dada ini lapang adalah keberaniannya memikul amanah yang jauh lebih berat dari sekadar pekerjaan administratif. Ia memilih kembali ke kampung halaman, ke Maffa, tempat sejarah keluarga kami bermula. Di sana, ia tidak hanya pulang sebagai anak desa, tetapi sebagai penerus nilai dan penjaga warisan spiritual yang dirintis Abah dengan penuh pengorbanan.

Setelah puluhan tahun mengabdi di Kalimantan, Abah akhirnya kembali ke tanah kelahiran. Usia tidak melemahkan tekadnya, justru memurnikan niatnya. Di Maffa, ia mendirikan Pondok Pesantren Nurul Khairaat, sebuah ruang pendidikan yang lahir dari kecintaan pada ilmu dan umat. Pondok itu bukan proyek pribadi, melainkan wakaf hidup yang disiapkan sebagai bekal bersama, baik untuk kehidupan dunia maupun untuk perjalanan panjang setelahnya.

Pondok Pesantren Nurul Khairaat berdiri di Gane Timur bukan dengan kemewahan, tetapi dengan ketulusan. Setiap dindingnya menyimpan doa, setiap lantainya menjadi saksi sujud, dan setiap santrinya adalah harapan masa depan. Abah membangunnya dengan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan paling jujur untuk mengubah keadaan. Ia tidak mengejar pengakuan, hanya ingin memastikan bahwa generasi berikutnya memiliki tempat belajar yang berakar pada akhlak.

Kini, estafet itu berpindah tangan. Adik saya, yang dulu dikenal manja, berdiri sebagai pemimpin pondok. Transformasi itu tidak terjadi dalam semalam. Ia ditempa oleh waktu, diuji oleh tanggung jawab, dan dikuatkan oleh doa orang tua. Mengelola pesantren bukan sekadar mengatur administrasi, tetapi menjaga ruh, merawat kepercayaan, dan memastikan nilai-nilai Abah tetap hidup dalam setiap aktivitas pendidikan.

Saya melihatnya bekerja dalam diam, mengurus santri, mendampingi guru, dan memastikan pondok terus bertumbuh. Tidak ada gegap gempita, tidak ada pencitraan. Yang ada hanya kesungguhan dan kesetiaan pada amanah. Ia memahami bahwa kepemimpinan bukan soal berdiri paling depan, melainkan kesiapan untuk berada paling bertanggung jawab. Dalam dirinya, saya melihat pantulan Abah, bukan dalam rupa, tetapi dalam sikap dan keteguhan hati.

Merawat pesantren di kampung halaman bukan perkara ringan. Tantangan datang dari keterbatasan, dari ekspektasi masyarakat, hingga dari diri sendiri. Namun adik saya memilih bertahan dan berjuang. Ia menjadikan setiap kesulitan sebagai pengingat bahwa jalan ini dipilih dengan sadar. Di tengah kesibukan sebagai ASN, ia tidak menjadikan itu alasan untuk abai. Justru di sanalah nilai pengabdian menemukan bentuk paling nyata.

Sebagai kakak, saya sering merenung tentang perjalanan ini. Bagaimana seorang anak kecil yang dulu selalu mencari perlindungan, kini menjadi tempat bersandar bagi banyak orang. Santri-santri itu datang dengan harapan, dan adik saya menjawabnya dengan keteladanan. Ia tidak mengajarkan hanya lewat kata-kata, tetapi melalui laku hidup. Dalam dunia yang sering bising oleh kepentingan, sikap seperti ini menjadi oase yang menenangkan.

Pondok Nurul Khairaat hari ini bukan lagi sekadar bangunan fisik. Ia tumbuh menjadi pusat pembentukan karakter, tempat nilai agama bertemu dengan realitas sosial. Di sanalah anak-anak belajar mengaji, memahami kehidupan, dan menata masa depan. Adik saya menjaga agar pondok ini tetap berpijak pada cita-cita awal Abah: mencetak manusia berilmu, beradab, dan memiliki keberanian moral dalam menghadapi zaman.

Saya percaya, Abah menanam pondasi ini bukan hanya untuk anak-anaknya, tetapi untuk masyarakat luas. Ia memahami bahwa amal paling panjang adalah pendidikan. Kini, ketika Abah telah menunaikan perannya, adik saya melanjutkan dengan penuh tanggung jawab. Ia tidak mengklaim sebagai penerus, tetapi sebagai penjaga. Menjaga agar api perjuangan itu tidak padam, meski angin perubahan terus bertiup kencang.

Ada kebanggaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata ketika melihat adik berdiri di tengah santri, memimpin doa, dan mengarahkan langkah. Bukan karena posisinya, tetapi karena kesediaannya melayani. Di situlah makna kepemimpinan menemukan bentuknya yang paling jujur. Ia tidak mengejar tepuk tangan, hanya ingin memastikan bahwa pesantren ini terus menjadi ruang tumbuh bagi generasi berikutnya.

Sebagai Kuli Tinta, saya sering menulis tentang banyak hal. Namun kisah ini selalu menjadi yang paling personal. Ia bukan sekadar cerita keluarga, melainkan refleksi tentang bagaimana nilai diwariskan dan dijaga. Adik saya telah memilih jalan yang jauh dari pujian, tetapi penuh makna. Dalam setiap langkahnya, saya melihat keberlanjutan doa Abah yang bekerja dalam bentuk nyata.

Gane Timur kini tidak hanya dikenal sebagai wilayah geografis, tetapi sebagai tempat lahirnya ikhtiar pendidikan yang tulus. Pondok Nurul Khairaat menjadi titik temu antara masa lalu dan masa depan. Di sanalah sejarah keluarga kami bertaut dengan harapan masyarakat. Adik saya berdiri di tengah simpul itu, menjaga keseimbangan antara tradisi dan tantangan zaman yang terus berubah.

Saya sering berpikir bahwa hidup pada akhirnya adalah tentang memilih amanah mana yang sanggup kita pikul. Adik saya telah memilih dengan sadar, dan menjalankannya dengan penuh kesungguhan. Ia tidak sempurna, tetapi ia jujur pada niatnya. Dalam dunia yang sering mengaburkan tujuan, kejujuran seperti ini menjadi nilai yang sangat berharga dan patut dirawat bersama.

Abah pernah berkata bahwa ilmu adalah cahaya, dan tugas kita adalah menjaganya agar tidak redup. Kalimat itu kini hidup dalam keseharian pondok. Setiap santri yang belajar, setiap guru yang mengajar, dan setiap kegiatan yang berlangsung adalah bagian dari upaya menjaga cahaya itu tetap terang. Adik saya memahami pesan itu, dan menjadikannya pedoman dalam setiap keputusan.

Melihat perjalanan ini, saya hanya bisa bersyukur. Syukur atas keluarga yang menanamkan nilai, atas adik yang setia pada amanah, dan atas kesempatan menyaksikan transformasi yang penuh makna. Hidup tidak selalu tentang pencapaian pribadi, tetapi tentang kontribusi yang kita tinggalkan. Dalam hal ini, adik saya telah memilih kontribusi yang berdampak panjang.

Kepada adik, saya ingin mengatakan bahwa perjuangan ini tidak pernah sendiri. Doa keluarga, doa santri, dan doa Abah selalu menyertai. Setiap langkah yang diambil dengan niat baik akan menemukan jalannya. Pondok ini bukan beban, melainkan kehormatan. Ia adalah ladang amal yang akan terus berbuah, selama dijaga dengan keikhlasan dan kesabaran.

Harapan Abah sesungguhnya sederhana: agar ilmu terus diwariskan, akhlak tetap dijaga, dan pengabdian tidak berhenti pada satu generasi. Adik saya kini menjadi bagian dari jawaban atas harapan itu. Ia tidak hanya melanjutkan, tetapi merawat. Dan dalam perawatan itulah, nilai-nilai keluarga menemukan maknanya yang paling dalam.

Untuk adikku, tulisan ini hanyalah satu cara kecil saya merawat rasa bangga itu. Teruslah berjalan dengan keyakinan yang tenang, seperti yang selalu Abah ajarkan. Pondok Nurul Khairaat adalah ruang belajar kita bersama, tempat amanah dirawat dan harapan disemai. Saya akan selalu memberikan sport, menulis, menyaksikan, dan mendoakan. Selama niat dijaga dan langkah tetap lurus, insya Allah, semua akan menemukan waktunya untuk tumbuh. (*)

Berita Terkait

Berdasar Evaluasi Progres: dr. Nurrasty Liambana di Mutasi: Begini Penjelasan Kapus Maffa Secara Rasional.!
Jaga Kamtibmas, Polsek Pulau Bacan Tindak Pembuatan Cap Tikus di Perkebunan Warga ย 
Cari Tau Kapan Malam Nishfu Sya’ban Serta Amalanya
Wartawan KompasNews Diancam Saat Liputan di Obi, Kasus Resmi Dilaporkan ke Polisi
Tiga Bersaudara Diduga Ancam Wartawan Saat Meliput Sengketa Tambang Emas di Anggai
Bupati Bassam Kasuba Lantik Penjabat Sekda : Tekankan Peran Strategis Birokrasi
Pelantikan Pengurus KB PII Halsel Periode 2025- 2029, Ini Pesan Bupati Bassam Kasubaย 
Kaskogabwilhan III Tinjau Bencana Banjir di Halmahera Barat, Serahkan Bantuan dan Dengarkan Aspirasi Masyarakat

Berita Terkait

Rabu, 4 Februari 2026 - 20:46

Berdasar Evaluasi Progres: dr. Nurrasty Liambana di Mutasi: Begini Penjelasan Kapus Maffa Secara Rasional.!

Minggu, 1 Februari 2026 - 21:32

Cari Tau Kapan Malam Nishfu Sya’ban Serta Amalanya

Jumat, 30 Januari 2026 - 22:47

Wartawan KompasNews Diancam Saat Liputan di Obi, Kasus Resmi Dilaporkan ke Polisi

Kamis, 29 Januari 2026 - 22:34

Tiga Bersaudara Diduga Ancam Wartawan Saat Meliput Sengketa Tambang Emas di Anggai

Sabtu, 24 Januari 2026 - 13:26

Bupati Bassam Kasuba Lantik Penjabat Sekda : Tekankan Peran Strategis Birokrasi

Berita Terbaru